BANYUWANGI, BRATAPOS.com — Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Banyuwangi menegaskan komitmennya dalam penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal melalui pagelaran wayang kulit "Lakon Ekalaya" pada puncak peringatan Milad ke-42 MAN 2 Banyuwangi, Minggu (25/1/2026) sore. Kegiatan yang digelar di lingkungan madrasah ini menjadi simbol sinergi antara pendidikan formal, seni tradisi, dan pembinaan karakter generasi muda.
Pagelaran wayang kulit tersebut diiringi kelompok Karawitan Langen Budaya MAN 2 Banyuwangi, yang melibatkan siswa aktif dan alumni. Pemilihan wayang kulit sebagai sajian utama bukan sekadar hiburan, melainkan sarana edukatif yang sarat nilai filosofis dan moral.
BACA JUGA :
Puluhan Perusahaan di Kaltim Tidak Becus Urus Lingkungan Hidup; Praktisi Hukum Robertus Antara,S.H Dorong Pemerintah Evaluasi Total.
Lakon Ekalaya, yang bersumber dari epos Mahabharata, dipilih karena mengandung pesan kuat tentang ketekunan, kemandirian belajar, disiplin, serta daya juang dalam menghadapi keterbatasan nilai-nilai, yang dinilai relevan dengan tantangan pendidikan masa kini.
Kepala MAN 2 Banyuwangi, Saeroji, menegaskan bahwa seni tradisi memiliki posisi strategis dalam dunia pendidikan. Menurutnya, wayang kulit dan karawitan merupakan media efektif untuk menanamkan nilai etika, spiritualitas, dan keteladanan kepada peserta didik.
“Wayang bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang sangat relevan untuk pembentukan karakter peserta didik, seperti ketekunan, kejujuran, dan kehalusan budi,” ujar Saeroji dalam sambutannya.
Menariknya, pagelaran wayang kulit ini didalangi oleh Davin Labhan, siswa kelas XI IPS MAN 2 Banyuwangi. Keterlibatan pelajar sebagai dalang menjadi bukti nyata adanya proses regenerasi pelaku seni tradisi di lingkungan madrasah. Davin tampil memukau dengan dukungan pengrawit muda, termasuk kolaborasi dengan alumni, salah satunya Syifa Hidayat.
Pagelaran tersebut mendapat apresiasi dari sejumlah budayawan Banyuwangi yang hadir, di antaranya Aekanu Hariyono (Killing Osing) dan Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi, yang juga pengurus Dewan Kesenian Blambangan (DKB).
Keduanya menilai, langkah MAN 2 Banyuwangi sebagai terobosan penting dalam menjaga keberlanjutan seni tradisi melalui jalur pendidikan formal.
“Memberi ruang seni tradisi di sekolah adalah investasi kebudayaan jangka panjang. Ini langkah strategis untuk memastikan wayang dan karawitan tetap hidup di tangan generasi muda,” kata Syafaat, salah satu budayawan.
Selain pagelaran wayang kulit, rangkaian Milad ke-42 MAN 2 Banyuwangi juga diisi dengan berbagai lomba, pentas seni, dan kegiatan kreativitas siswa yang melibatkan partisipasi aktif warga madrasah serta alumni.
"Seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk memperkuat ikatan emosional, kebersamaan, dan sinergi antar generasi," pungkas Saeroji.
Melalui peringatan milad ini, MAN 2 Banyuwangi menegaskan perannya bukan hanya sebagai lembaga pendidikan akademik, tetapi juga sebagai ruang pembinaan karakter, pengembangan potensi siswa, dan pelestarian budaya lokal.
Nilai-nilai keteladanan dalam Lakon Ekalaya diharapkan mampu menginspirasi peserta didik menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan berkarakter dalam menghadapi tantangan masa depan. (rag/bp-bwi)
Prev Article
Kebocoran Gas LPG Picu Kebakaran Hebat Ayam Geprek SFC Rogojampi, Kerugian Capai Rp150 Juta
Next Article
Efianto SH, MH Terpilih Aklamasi sebagai Ketua Umum Lawyer and Legal Konsultan Indonesia