Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Topeng Kesalehan: Pengidap NPD Gunakan Agama sebagai Alat Kontrol

Gresik | Bratapos.com – Sebuah fenomena mengkhawatirkan mencuat dari temuan psikologi klinis dan pengamatan sosial, di mana individu dengan gangguan kepribadian narsistik atau Narcissistic Personality Disorder (NPD) diketahui menggunakan agama sebagai kedok untuk menekan, mengontrol, bahkan mengeksploitasi orang lain secara spiritual, emosional, dan finansial.

Fenomena ini diangkat oleh kanal edukasi psikologi Bengkel Pikiran, yang menyebut bahwa kesalehan bisa menjadi topeng manipulatif di tangan pengidap NPD. Mereka tampak religius di mata publik, namun di balik layar menjalankan praktik penindasan spiritual.

BACA JUGA : Dua Bersaudara Banyuwangi Raih Juara dan Masuk Tiga Besar Nilai Tertinggi Dunia di CUMF 2026 Malaysia

Topeng religius bukan untuk mendekat kepada Tuhan, tapi untuk membungkam dan mengendalikan orang lain,” tulis akun tersebut.

Apa Itu NPD?

NPD merupakan gangguan kepribadian serius yang ditandai oleh:

Rasa superior tinggi,

Kebutuhan akan pujian berlebihan,

Kurangnya empati,

Serta kecenderungan mengeksploitasi orang demi kepentingan pribadi.

Dalam konteks religius, pelaku menyamar sebagai sosok yang taat, namun menggunakan agama untuk memanipulasi korban.

Dukungan ilmiah dari buku The Narcissism Epidemic (Twenge & Campbell, 2009) dan studi Exline & Geyer (2004) menegaskan bahwa narsisme bisa menyusup ke dalam citra religius dan digunakan untuk kontrol sosial yang tidak sehat.


6 Pola Manipulasi Berkedok Agama

Bengkel Pikiran membeberkan enam pola berbahaya yang dilakukan oleh pelaku NPD dengan kedok kesalehan:

1. Ayat sebagai Tekanan Psikologis: Ayat suci dipelintir untuk menekan korban secara emosional.


2. Eksploitasi Dana Ibadah: Infak dan sedekah digunakan untuk kepentingan pribadi.


3. Citra Malaikat di Publik, Neraka di Rumah: Di depan publik tampak lembut, namun kasar dan manipulatif di balik layar.


4. Label Dosa untuk Membungkam: Korban dilabeli “durhaka” atau “lemah iman”.


5. Narasi Ujian Iman untuk Kekerasan: Kekerasan disamarkan sebagai ujian dari Tuhan.


6. Menakut-nakuti Korban dengan Rasa Berdosa: Korban dibuat takut meninggalkan pelaku karena merasa itu sama dengan meninggalkan iman.

 

Seruan Edukasi dan Proteksi

Pakar psikologi dan tokoh agama mengimbau agar masyarakat lebih kritis terhadap topeng kesalehan semu. Kesalehan sejati membawa kedamaian, bukan tekanan atau ketakutan.

Jangan tertipu oleh tampilan religius semata. Agama bukan alat untuk mengontrol, tapi untuk membebaskan dan menyembuhkan,” ujar seorang psikolog yang enggan disebutkan namanya.

 

Referensi Ilmiah:

Twenge, J.M., & Campbell, W.K. (2009). The Narcissism Epidemic: Living in the Age of Entitlement.

Exline, J.J., & Geyer, A.L. (2004). Perceptions of Religious Hypocrisy and Authenticity: A Qualitative Study.

 


Editor: Witnyo

Penulis: Bengkel Pikiran

Kontak Redaksi: [email protected]

Jika Anda mengalami penindasan spiritual atau kekerasan psikologis dengan dalih agama, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional atau laporkan ke lembaga perlindungan korban, Aparat Kepolisian terdekat. 

Butuh Bantuan Hukum?

Jika Anda atau orang terdekat mengalami penindasan spiritual, kekerasan psikologis berkedok agama, atau bentuk lain manipulasi religius yang merugikan secara hukum, Law Firm Zaibi Susanto siap memberikan pendampingan dan bantuan hukum secara profesional.

 

📞 Hubungi: 085231707070
📧 Email: [email protected]

 

 

Catatan Penulis:
Artikel ini ditulis oleh Witnyo dengan bantuan teknologi AI dari ChatGPT (OpenAI) dalam proses pengembangan ide, struktur narasi, serta penyusunan kalimat. Setiap informasi tetap melalui kurasi dan penyesuaian oleh penulis untuk menjaga akurasi dan konteks lokal.

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Merusak Ekosistem Mangrove, Bangunan Liar Kian Menjamur di Kecamatan Camplong
Next Article
Bupati Bojonegoro Tandatangani MoU Terkait Penyelenggaraan Sekolah Rakyat bersama Menteri Sosial RI: Komitmen Nyata Atasi Kemiskinan Melalui Pendidikan

Related to this topic:

Be the first to write a comment.