BANYUWANGI, BRATAPOS.com — Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ sejatinya bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum refleksi mendalam atas kondisi umat Islam hari ini. Di tengah kemajuan teknologi dan melimpahnya sarana ibadah, umat justru dihadapkan pada krisis yang bersifat fundamental: krisis iman dan arah hidup.
Umat Islam bukan kekurangan jumlah, melainkan kehilangan kekuatan ruhani. Masjid berdiri megah, namun shalat sering kehilangan daya hidupnya. Ilmu berkembang pesat, tetapi tercerabut dari akar tauhid. Suara umat ramai di ruang publik, namun miskin keteladanan dan kedalaman makna.
BACA JUGA :
Plt Bupati Lisdyarita Resmi Lantik Volunteer Grebeg Suro 2026, Pemuda-Pemudi Bumi Reyog Siap Bergerak
Akademisi dan Pengkaji Islam Sosial, Muhammad Iqbal Alfanani Basyaiban, S.H.,M.Pd., menilai bahwa akar persoalan umat bukan terletak pada politik, ekonomi, atau teknologi, melainkan pada rapuhnya hubungan manusia dengan Allah SWT.
“Ketika shalat dijalankan tanpa ruh, Allah hanya diingat saat sempit. Padahal, Allah seharusnya menjadi pusat kehidupan, bukan sekadar pelarian,” ujar Iqbal Alfanani, Jumat (16/1/2026) / 27 Rajab 1447 Hijriah.
Isra’ Mi’raj: Peta Jalan Kebangkitan Ruhani
Isra’ Mi’raj terjadi pada fase paling gelap dalam kehidupan Rasulullah ﷺ, ketika penolakan datang dari bumi, namun pertolongan dibuka dari langit. Peristiwa ini menjadi pesan abadi bagi umat Islam bahwa perbaikan hidup dimulai dari perbaikan hubungan dengan Allah.
Allah SWT menegaskan tujuan penciptaan manusia:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, perintah yang diturunkan bukan jihad, zakat, atau puasa, melainkan shalat. Hal ini menegaskan bahwa kebangkitan umat dimulai dari sajadah, bukan dari podium, slogan, atau narasi kosong.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ
“Amalan pertama yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat.” (HR. Abu Dawud)
Namun realitas hari ini menunjukkan shalat sering ditunda demi urusan dunia, dijalankan tanpa kekhusyukan, bahkan ditinggalkan tanpa rasa bersalah.
Ujian Iman di Tengah Zaman Skeptis
Di era modern, rasionalitas sering dijadikan standar tunggal kebenaran. Wahyu dipaksa tunduk pada logika manusia. Padahal Isra’ Mi’raj adalah ujian iman, sebagaimana keteguhan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. yang berkata:
“Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu pasti benar.”
Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
“(Orang beriman adalah) mereka yang beriman kepada yang ghaib.” (QS. Al-Baqarah: 3)
Iman tidak tumbuh dari perdebatan tanpa ujung, tetapi dari hati yang tunduk dan taslim terhadap kebenaran wahyu.
Masjidil Aqsha dan Luka Kolektif Umat
Isra’ Mi’raj juga mengikat Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dalam satu kesatuan iman. Kepedulian terhadap Masjidil Aqsha bukan isu politik semata, melainkan persoalan akidah dan sejarah Islam.
Allah SWT menyebut Aqsha sebagai tempat yang diberkahi:
الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ
“Yang Kami berkahi sekelilingnya.” (QS. Al-Isra’: 1)
Umat yang kehilangan kepekaan terhadap penderitaan saudaranya sejatinya sedang kehilangan sensitivitas imannya sendiri.
Bangkit dari Dalam, Bukan dari Luar
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari dalam diri. Allah SWT menegaskan:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Karena itu, momentum Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi ajakan untuk muhasabah, memperbaiki shalat, memperkuat iman, dan menumbuhkan akhlak. Jangan sibuk mengutuk gelapnya zaman, sementara enggan menyalakan cahaya iman dalam diri.
Semoga Isra’ Mi’raj tidak hanya diperingati, tetapi benar-benar dihidupkan dalam shalat, akhlak, dan perjuangan ruhani umat Islam. (rag/bp-bwi)