Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Pusat Batik Banyuwangi Resmi Hadir, Perkuat Identitas Wastra Lokal dan Dongkrak Ekonomi Perajin

BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Upaya penguatan identitas budaya sekaligus pemberdayaan ekonomi kreatif di Banyuwangi kembali mendapat momentum baru dengan hadirnya Pusat Batik Banyuwangi di jantung kota. Berlokasi strategis di Jalan Ahmad Yani No. 263, tepat di depan kantor Pemkab, fasilitas ini menjadi etalase utama wastra khas daerah sekaligus simpul baru ekosistem industri batik lokal.

Tidak sekadar ruang pamer, Pusat Batik Banyuwangi menghadirkan ratusan koleksi batik berkualitas tinggi, mulai dari kain hingga produk fesyen siap pakai. Motif-motif khas seperti Gadjah Oling, Kangkung Setingkes, Paras Gempal, hingga Kopi Pecah ditampilkan sebagai representasi filosofi dan kearifan lokal masyarakat Osing.

BACA JUGA : Plt Bupati Lisdyarita Resmi Lantik Volunteer Grebeg Suro 2026, Pemuda-Pemudi Bumi Reyog Siap Bergerak

Pengelola Pusat Batik Banyuwangi, Ratri Jawaness, menegaskan bahwa seluruh produk yang dipasarkan telah melalui proses kurasi ketat. Hal ini untuk memastikan setiap karya tidak hanya unggul secara estetika, tetapi juga memiliki nilai budaya yang autentik.

“Setiap batik yang masuk harus mencerminkan identitas Banyuwangi, baik dari motif, teknik, maupun filosofi yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

Galeri ini beroperasi setiap hari pukul 08.00–21.00 WIB, memberikan akses luas bagi wisatawan maupun masyarakat untuk mengenal dan membeli batik lokal secara langsung.

Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, menegaskan bahwa pembangunan pusat batik ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah daerah dalam mengintegrasikan pelestarian budaya dengan pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, selama lebih dari satu dekade, Pemkab Banyuwangi secara konsisten membangun ekosistem batik melalui:

▪︎ Pelatihan dan workshop bersama kurator nasional

▪︎ Fasilitasi keikutsertaan dalam event fesyen

▪︎ Penguatan pemasaran digital

▪︎ Dukungan akses pembiayaan bagi perajin.

Hasilnya mulai terlihat signifikan. Jumlah perajin dan desainer lokal meningkat, pasar semakin luas, dan batik Banyuwangi kini telah masuk dalam kurikulum pendidikan vokasi.

“Ini bukan sekadar gedung, tetapi simbol komitmen dalam melestarikan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan perajin,” tegas Mujiono.

Menariknya, Pusat Batik Banyuwangi tidak hanya berfungsi sebagai ruang display. Fasilitas ini juga dilengkapi co-working space yang dapat dimanfaatkan sebagai Ruang edukasi batik, Workshop kreatif dan Inkubator ide bagi pelaku industri kreatif.

Pendekatan ini menempatkan batik bukan hanya sebagai produk tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari industri kreatif modern yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Untuk menjawab tantangan pasar global, pengelola juga mengoptimalkan kanal digital sebagai sarana pemasaran. Langkah ini dinilai krusial untuk memperluas jangkauan konsumen, sekaligus memperkuat positioning batik Banyuwangi di pasar nasional hingga internasional. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Danramil Songgon Pimpin Hari ke-16 Karya Bakti TNI, Jembatan Perintis Garuda di Sungai Binau Dikebut
Next Article
Ketua DPRD Kata Pasuruan M Toyip Sampaikan Rekomendasi Terhadap LKPJ kota Pasuruan Tahun 2025

Related to this topic:

Be the first to write a comment.