Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Tradisi Endhog-Endhogan, Cara Unik Warga Banyuwangi Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

BANYUWANGI || Bratapos.com – Bulan Rabiul Awwal bagi masyarakat Banyuwangi selalu diwarnai dengan tradisi religius yang khas, yaitu endhog-endhogan. Tradisi yang diwariskan lintas generasi ini menjadi simbol cinta umat kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus mempererat kebersamaan warga.

Dalam tradisi ini, telur rebus dihias bunga kertas warna-warni, kemudian ditancapkan pada batang pisang berhias atau jodhang. Hiasan unik tersebut lantas diarak beramai-ramai keliling kampung atau ditempatkan di masjid, sambil diiringi sholawat, barzanji, dzikir, dan doa bersama.

BACA JUGA : Pesan Tegas Dandim 0825/Banyuwangi di HUT ke-48 GM FKPPI: NKRI Wajib Dijaga Bersama

Salah satu perayaan terbesar berlangsung di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Jum'at (5/9/2025) pagi. Ribuan warga memadati jalanan sepanjang 2,2 kilometer, dari Masjid Baiturrahman menuju Kantor Desa Kembiritan, untuk mengikuti pawai endhog-endhogan.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, hadir sekaligus melepas rombongan peserta. Pawai tersebut menampilkan ratusan jodhang telur hias dengan kreasi beragam bernuansa Islami.

Ornamen replika Ka’bah, pohon kurma, unta lengkap dengan penunggangnya, hingga perahu tumpeng telur raksasa menjadi daya tarik tersendiri.

“Tradisi ini bukan hanya festival budaya, tetapi wujud cinta kita kepada Rasulullah SAW. Saya bangga melihat semangat gotong royong dan kebersamaan warga Banyuwangi dalam menjaga tradisi luhur ini,” ujar Bupati Ipuk.

Bupati juga berpesan agar masyarakat terus menjaga kondusifitas, keamanan, dan kenyamanan daerah. “Semoga kita semua mendapat syafaat Rasulullah SAW kelak,” tuturnya.

Atraksi paling menyita perhatian datang dari warga Dusun Krajan Dua, yang menampilkan replika perahu tumpeng raksasa setinggi 6–7 meter, dihiasi 1.500–2.000 telur. Kreasi itu dikerjakan selama sepekan penuh dengan melibatkan 30–40 warga secara gotong royong, menghabiskan biaya sekitar Rp7 juta.

“Kami kerjakan dari pagi hingga malam, semua demi menyemarakkan festival ini. Bukan soal besar atau kecilnya, tapi semangat kebersamaan warga yang menjadi kebanggaan,” kata koordinator warga, Taufiq Hidayat.

Panitia Festival Endhog-Endhogan, Guntur, menyebutkan tahun ini tradisi semakin meriah dengan 221 kreasi dari tujuh dusun di Kembiritan. Jumlah peserta mencapai lebih dari 1.000 orang.

“Alhamdulillah, antusiasme warga terus meningkat. Endhog-Endhogan Kembiritan sudah dua tahun terakhir masuk kalender Banyuwangi Festival (B-Fest). Artinya, tradisi ini tidak hanya milik masyarakat lokal, tapi juga menjadi daya tarik wisata budaya dan religi yang mendunia,” terang Guntur, yang juga Ketua Takmir Masjid Baiturrahman.

Rangkaian acara tak berhenti pada pawai. Usai arak-arakan, ribuan warga berkumpul kembali di Masjid Baiturrahman untuk melantunkan dzikir maulid dan mengikuti pengajian umum. 

Sejak awal Rabiul Awwal, panitia juga telah menggelar gerakan membaca 1.000 sholawat sebagai pembuka rangkaian perayaan.

Tradisi endhog-endhogan bukan sekadar pesta rakyat penuh warna, melainkan warisan budaya yang mengandung nilai religius, sosial, dan edukatif. Melalui tradisi ini, masyarakat Banyuwangi tidak hanya merayakan Maulid Nabi, tetapi juga merawat identitas lokal serta menanamkan nilai gotong royong pada generasi muda. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
UNJANI Hadir di Banyuwangi, Layani Ribuan Warga Lewat Program Kesehatan Gigi Gratis
Next Article
Refleksi Maulid Nabi Dalam Kehidupan Sehari-Hari : Rasulullah Sebagai Teladan dalam Menegakkan Hukum yang Adil

Related to this topic:

Be the first to write a comment.