Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

BEC dan ITdBI Dongkrak Ekonomi Banyuwangi: Wisata Melejit, UMKM Kebanjiran Rezeki

BANYUWANGI || Bratapos.com – Dua ajang bergengsi dalam rangkaian Banyuwangi Festival 2025, yakni Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) dan International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), kembali membuktikan diri sebagai magnet wisata sekaligus penggerak ekonomi daerah.

Data resmi mencatat lonjakan signifikan kunjungan wisatawan sepanjang Juli 2025. Dampaknya langsung terasa pada sektor akomodasi, kuliner, transportasi, hingga UMKM lokal.

BACA JUGA : Pesan Tegas Dandim 0825/Banyuwangi di HUT ke-48 GM FKPPI: NKRI Wajib Dijaga Bersama

Berdasarkan rilis Pariwisata Jasa Akomodasi, jumlah tamu hotel di Banyuwangi pada Juli 2025 mencapai 76.865 orang, naik 2.878 orang dibandingkan bulan sebelumnya. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) pun melesat ke angka 43,17%, jauh di atas rata-rata Jawa Timur (35,27%) maupun nasional (40,13%). Fakta ini menegaskan posisi Banyuwangi sebagai salah satu destinasi wisata paling diminati di Indonesia.

“Pariwisata telah menjadi motor penggerak ekonomi rakyat. Hotel penuh, kuliner ramai, transportasi hidup, dan UMKM ikut menikmati dampaknya. Ini bukti nyata bahwa event pariwisata memberi kesejahteraan langsung bagi warga,” ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Jumat (5/9/2025).

Dari total tamu hotel, 89,40% (68.694 orang) merupakan wisatawan domestik, sementara 10,60% (8.171 orang) turis mancanegara. Meski masih didominasi pengunjung lokal, kontribusi wisatawan asing terus meningkat, memperkuat daya tarik global Banyuwangi.

Peningkatan okupansi terasa merata. Hotel berbintang mencatat 62,98%, sementara non-bintang mencapai 30,31%. Artinya, geliat ekonomi dirasakan lintas segmen, mulai hotel mewah hingga penginapan kelas menengah dan budget.

Rata-rata lama menginap (RLMT) memang sedikit turun menjadi 1,32 hari. Namun, pada hotel berbintang justru naik ke 1,36 hari, dan non-bintang ke 1,27 hari. Hal ini menunjukkan wisatawan sengaja memperpanjang masa tinggal untuk menikmati rangkaian atraksi budaya dan sport tourism.

Kesuksesan BEC dan ITdBI tidak hanya terletak pada skala acara, melainkan juga pada strategi integrasi pariwisata dengan ekonomi rakyat. Pemkab Banyuwangi melibatkan UMKM, seniman lokal, hingga komunitas masyarakat dalam setiap event, sehingga perputaran uang wisatawan benar-benar dinikmati warga.

“BEC dan ITdBI bukan sekadar tontonan, tapi investasi jangka panjang. Kami ingin menjadikan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan yang inklusif,” tegas Ipuk.

Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi, Taufik Rohman, menambahkan Pemkab berkomitmen menghadirkan event kreatif berkelas dunia yang tidak hanya memikat wisatawan, tetapi juga menjamin keberlanjutan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Menurutnya, sinergi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci menjaga momentum kebangkitan pariwisata daerah.

"Dengan capaian ini, Banyuwangi semakin memantapkan diri sebagai ikon pariwisata nasional," ungkap Taufik.

Keberhasilan event berskala internasional ini menjadi bukti, bahwa pengelolaan pariwisata yang tepat mampu menggerakkan ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya lokal. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Refleksi Maulid Nabi Dalam Kehidupan Sehari-Hari : Rasulullah Sebagai Teladan dalam Menegakkan Hukum yang Adil
Next Article
Kasdim 0825/Banyuwangi Hadiri "UNJANI Mengabdi", Dukung Layanan Kesehatan Gratis untuk Warga Glagah

Related to this topic:

Be the first to write a comment.