Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Jelang Meras Kuntulan 2026, Kertosari Banyuwangi Matangkan Festival Kebangkitan Seni Tradisi

BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Persiapan pelaksanaan Kertosari Bangkit Festival bertajuk “Meras Kuntulan 2026” terus dimatangkan panitia. Festival budaya yang digagas warga Kelurahan Kertosari, Kecamatan Banyuwangi, ini diproyeksikan menjadi ruang ekspresi sekaligus upaya memperkuat pelestarian seni tradisi Banyuwangi.

Mengusung konsep kolaborasi tradisi dan seni budaya, festival perdana tersebut akan menyuguhkan sedikitnya lima kesenian, yakni Kuntulan, Hadrah, Samroh, Jaranan, serta musik Kendang Kempul atau musik etnik tradisional.

BACA JUGA : Pesan Tegas Dandim 0825/Banyuwangi di HUT ke-48 GM FKPPI: NKRI Wajib Dijaga Bersama

Rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 20 September 2026, berpusat di Lapangan Waru Doyong, RT 001/RW 002, Lingkungan Krajan, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Banyuwangi.

Ketua Panitia Kertosari Bangkit Festival, Hendro Harsono, ST., mengatakan berbagai persiapan terus dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan mampu memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat secara langsung.

“Persiapan terus kami matangkan, mulai dari rangkaian pawai, pertunjukan seni budaya, UMKM, hingga prosesi Meras Kuntulan. Kami ingin kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi menjadi momentum kebersamaan warga sekaligus menjaga tradisi dan seni budaya yang ada di Kertosari,” ujar Hendro, Senin (14/9/2026).

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan akan dimulai sejak pagi. Pada pukul 07.00 WIB, masyarakat akan disuguhkan Pawai Kuntulan yang diiringi ratusan sepeda onthel dari komunitas KSOK.

Pawai tersebut akan menyusuri sejumlah jalan kampung di wilayah Kelurahan Kertosari. Selain menjadi bagian dari rangkaian festival, kegiatan ini juga diharapkan mampu membangun suasana kebersamaan dan menarik antusiasme masyarakat.

“Pawai Kuntulan akan melibatkan ratusan sepeda onthel yang tergabung dalam KSOK. Rutenya melewati jalan-jalan kampung se-Kelurahan Kertosari. Kami juga menyiapkan stand UMKM kuliner dari perwakilan masing-masing RW, sehingga masyarakat tidak hanya menikmati seni budaya, tetapi juga bisa menikmati dan mendukung produk UMKM warga,” jelasnya.

Memasuki sore hingga malam hari, rangkaian kegiatan akan berlanjut dengan prosesi tasyakuran atau selametan Meras Kuntulan sekitar pukul 18.00 WIB, setelah Sholat Magrib.

Puncak festival dijadwalkan dimulai sekitar pukul 19.00 WIB, dengan menampilkan beragam seni budaya yang dibawakan masyarakat setempat.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah Kuntulan Caruk, yakni pertemuan dua grup musik Kuntulan untuk menunjukkan kemampuan masing-masing. Adu kreativitas tersebut tidak hanya menyangkut aransemen musik, tetapi juga kekuatan gerak dan tarian Kuntulan.

“Puncaknya nanti ada Kuntulan Caruk. Dua grup Kuntulan akan dipertemukan dan saling menunjukkan kemampuan, baik dari sisi aransemen musik maupun tariannya. Ini yang kami harapkan menjadi salah satu daya tarik utama festival,” kata Hendro.

Meras Kuntulan memiliki makna penting dalam tradisi kesenian Banyuwangi. Prosesi tersebut menjadi bentuk ungkapan syukur sekaligus ritual simbolis yang berkaitan dengan kelulusan, pengukuhan, atau wisuda bagi para penari Kuntulan.

Dalam pemaknaan budaya masyarakat Banyuwangi, khususnya masyarakat Osing, istilah “meras” merujuk pada prosesi penyucian dan pengukuhan secara simbolis. Prosesi tersebut menandai seorang penari telah menyelesaikan tahapan pembelajaran dan dinyatakan siap untuk tampil sebagai penari Kuntulan.

Kuntulan sendiri merupakan salah satu kesenian khas Banyuwangi yang memadukan unsur tari dan musik dengan akar budaya lokal, termasuk pengaruh Jawa, Bali, dan Osing, serta sentuhan budaya Timur Tengah yang berkembang dalam napas budaya Islam.

Karena itu, Meras Kuntulan tidak hanya dipandang sebagai sebuah pertunjukan, tetapi juga memiliki dimensi pelestarian tradisi dan pewarisan nilai budaya kepada generasi berikutnya.

Pelaksanaan Kertosari Bangkit Festival “Meras Kuntulan 2026” mendapat apresiasi dari Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, H. Hartono, S.Sos., M.Si.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat secara langsung dalam menjaga dan mengembangkan seni budaya merupakan bagian penting dalam upaya mempertahankan kekayaan budaya Banyuwangi.

“Kami mengapresiasi Kertosari Bangkit Festival bertajuk Meras Kuntulan 2026. Ini merupakan agenda festival perdana yang digelar oleh warga Kelurahan Kertosari. Tentu kami berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk terus menjaga, merawat, sekaligus mengembangkan seni budaya yang menjadi kekayaan Banyuwangi,” ungkap Hartono.

Ia menilai, festival berbasis masyarakat memiliki nilai strategis. Karena pelestarian budaya tidak akan berjalan maksimal tanpa keterlibatan langsung para pelaku seni dan masyarakat sebagai pemilik tradisi.

“Yang paling penting adalah bagaimana tradisi dan kesenian ini terus hidup di tengah masyarakat serta dapat dikenalkan kepada generasi muda. Dengan demikian, seni budaya tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi tetap menjadi bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat Banyuwangi,” tambahnya.

Kertosari Bangkit Festival “Meras Kuntulan 2026” diharapkan menjadi momentum awal untuk membangun agenda budaya yang berkelanjutan di tingkat kelurahan, sekaligus memperkuat posisi masyarakat sebagai pelaku utama dalam pelestarian kesenian tradisional Banyuwangi.

Panitia mengajak masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya untuk hadir dan menyaksikan langsung seluruh rangkaian Kertosari Bangkit Festival “Meras Kuntulan 2026”, mulai dari pawai Kuntulan, UMKM kuliner, prosesi tasyakuran Meras Kuntulan, hingga pertunjukan seni budaya dan Kuntulan Caruk.

Ayo datang, saksikan, dan dukung pelestarian seni budaya Banyuwangi bersama warga Kertosari. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Penegakan Perda Dipertanyakan, Akses Wartawan Dibatasi: SEMESTA NTB Somasi Pemkab Lombok Tengah
Next Article

Related to this topic:

Be the first to write a comment.