BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Kekuatan budaya Banyuwangi kembali menunjukkan daya magisnya di mata dunia. Lantunan suara khas maestro Gandrung Banyuwangi, Mak Temu Misti, sukses menggetarkan hati seorang peneliti asal Jerman hingga meneteskan air mata saat melakukan penelitian lapangan di Bumi Blambangan.
Adalah Merle Friederike Rappold, mahasiswa program magister Social Sustainability and Demographic Change di Dortmund University, Jerman, yang memilih Banyuwangi sebagai lokasi utama riset akademiknya. Dalam penelitiannya, Merle mendalami konsep ethno-healing, sebuah pendekatan penyembuhan holistik yang berakar pada kearifan lokal melalui perpaduan spiritualitas, ritual adat, serta pemanfaatan tanaman dan obat-obatan tradisional.
BACA JUGA :
Seblang Bakungan Banyuwangi, Ritual Sakral Kuno yang Memukau Wisatawan
Bagi Merle, Banyuwangi menjadi kawasan yang menarik untuk diteliti karena memiliki kekayaan budaya yang masih hidup dan diwariskan secara kuat oleh masyarakat Suku Osing. Ia melihat tradisi lokal bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga memiliki potensi sebagai instrumen pemulihan kesehatan fisik maupun mental.
Saat melakukan wawancara mendalam dengan maestro Gandrung Banyuwangi, Mak Temu Misti, suasana penelitian yang awalnya berlangsung formal berubah menjadi momen penuh emosi. Di tengah perbincangan mengenai filosofi dan nilai budaya lokal, Mak Temu secara spontan melantunkan lagu Gandrung klasik berjudul Layar Kumendung.
Alunan suara yang kuat, penuh penghayatan, dan sarat makna tersebut membuat Merle larut dalam suasana. Meski tidak memahami lirik yang dinyanyikan, ia mengaku mampu merasakan energi emosional yang terpancar dari setiap nada yang dibawakan sang maestro.
"Saya merasakan koneksi yang luar biasa dengan gelombang suara Mak Temu. Meskipun saya tidak memahami arti liriknya, kombinasi melodi dan karakter vokalnya benar-benar menyentuh batin saya," ujar Merle, Kamis (4/6/2026).
Menurut Merle, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa bahasa budaya mampu menembus batas geografis, bahasa, bahkan kebangsaan. Baginya, musik tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi media penyembuhan psikologis yang efektif.
Peneliti muda asal Jerman itu menjelaskan bahwa ketertarikannya terhadap Banyuwangi tidak hanya didasarkan pada kekayaan budayanya, tetapi juga pada hubungan harmonis antara lingkungan alam dan kehidupan sosial masyarakatnya.
Ia menilai masyarakat Banyuwangi memiliki karakter terbuka, hangat, dan penuh empati dalam berinteraksi. Nilai-nilai tersebut dianggap sebagai modal sosial yang sangat penting dalam mendukung konsep kesehatan holistik (holistic health), yang saat ini semakin mendapat perhatian dalam berbagai kajian akademik dunia.
"Keakraban sosial dan kedekatan masyarakat dengan tradisi menjadi sesuatu yang sangat berharga. Saya melihat ada energi positif yang lahir dari hubungan manusia dengan alam dan budayanya," ungkapnya.
Melalui penelitian ini, Merle berharap dapat mengangkat praktik-praktik kearifan lokal Banyuwangi ke panggung akademik internasional. Ia ingin menunjukkan, bahwa tradisi dan budaya masyarakat Osing memiliki relevansi besar dalam mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan sosial di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis.
Menurutnya, pengalaman yang ia rasakan bersama masyarakat Banyuwangi membuktikan bahwa kebudayaan bukan hanya identitas suatu daerah, melainkan juga dapat menjadi jembatan penyembuhan batin yang universal.
Penelitian Merle sekaligus menjadi pengakuan, bahwa kekayaan budaya Banyuwangi memiliki nilai ilmiah dan kemanusiaan yang mampu menarik perhatian dunia internasional. Dari suara seorang maestro Gandrung, pesan tentang kedamaian, empati, dan kekuatan penyembuhan budaya berhasil melintasi batas negara dan menyentuh hati seorang peneliti dari belahan dunia lain. (rag/bp-bwi)
Prev Article
Atraksi Jaranan Senja di Agro Wisata Tamansuruh Banyuwangi Jadi Ikon Baru Wisata Budaya