Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Gintangan Bamboo Festival 2025, Dari Anyaman Tradisi Menjadi Destinasi Wisata Kelas Dunia

BANYUWANGI || Bratapos.com – Bambu yang selama ini identik dengan bahan bangunan dan perabot rumah tangga, di tangan masyarakat Desa Gintangan berubah menjadi karya seni bernilai tinggi. Hal itu tampak jelas dalam Gintangan Bamboo Festival (GBF) 2025, yang digelar pada Rabu (27/8/2025) dan sukses menyedot perhatian ratusan wisatawan dari berbagai daerah.

Festival tahunan ini bukan sekadar ajang pertunjukan seni. Lebih jauh, ia menjadi medium yang mengangkat bambu sebagai simbol kearifan lokal sekaligus motor penggerak ekonomi kreatif masyarakat. Desa Gintangan yang sebelumnya dikenal sebagai sentra kerajinan bambu, kini bertransformasi menjadi destinasi wisata budaya dengan daya tarik unik.

BACA JUGA : Jelang Meras Kuntulan 2026, Kertosari Banyuwangi Matangkan Festival Kebangkitan Seni Tradisi

Mengusung tema “Perujuke Jajang Kawitan” atau Tumbuhnya Bambu Pertama, festival tahun ini sarat makna. Filosofi tersebut melambangkan tumbuhnya kehidupan, keberlanjutan dan regenerasi, nilai yang melekat erat pada masyarakat Banyuwangi.

“Tema ini bukan hanya menumbuhkan semangat bagi para perajin, tapi juga menyampaikan pesan bahwa bambu adalah warisan leluhur yang terus hidup dan relevan,” ungkap Kepala Desa Gintangan, Hariyono.

Sebanyak 48 peserta tampil dengan kostum spektakuler yang seluruhnya berbahan dasar bambu. Dari anyaman sederhana hingga struktur megah yang menyerupai mahakarya karnaval, setiap busana menjadi etalase kreativitas sekaligus bukti bahwa subsektor kriya memiliki daya saing tinggi.

Wisatawan tak hanya menikmati parade kostum, tapi juga diajak menyelami filosofi serta menyaksikan langsung proses kreatif masyarakat. Interaksi ini memberikan pengalaman otentik, melihat bambu yang sederhana menjelma menjadi karya seni bernilai ekonomi dan budaya.

Hariyono menegaskan, GBF adalah langkah strategis untuk mengangkat nama Desa Gintangan di peta pariwisata Banyuwangi.

“Kami berharap festival ini tidak hanya mempromosikan Gintangan sebagai sentra kerajinan, tapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga mulai dari penjualan kerajinan, kuliner, hingga homestay,” ujarnya penuh optimistis.

Festival ini membuktikan model kolaborasi antara tradisi dan pariwisata yang mampu menciptakan ekonomi berkelanjutan. Desa tidak hanya menjadi penonton dalam arus pariwisata, melainkan juga aktor utama yang mengelola dan merasakan langsung manfaatnya.

Dengan konsepnya yang kreatif, inovatif, dan berbasis kearifan lokal, Gintangan Bamboo Festival menegaskan posisi Banyuwangi sebagai laboratorium pariwisata budaya kelas dunia. Festival ini memperlihatkan, bahwa potensi lokal ketika dikemas dengan visi, mampu menggaet pasar global sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Sejumlah OPD Sidoarjo Di Laporkan LSM WAR Ke Polda Jawa Timur
Next Article
Ketika Kecerdasan Buatan Membuat Mahasiswa Lupa Berpikir

Related to this topic:

Be the first to write a comment.