BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 kembali membuktikan diri bukan sekadar festival budaya kelas dunia, tetapi juga mesin penggerak ekonomi kreatif masyarakat lokal. Menjelang pelaksanaan acara, permintaan kostum karnaval melonjak tajam, membawa berkah bagi para desainer, pengrajin ukir, hingga pelaku usaha mikro di Banyuwangi.
Atmosfer persiapan BEC mulai terasa di berbagai sudut Banyuwangi. Sejumlah rumah produksi kostum dan workshop pengrajin tampak sibuk menyelesaikan pesanan yang terus berdatangan. Aktivitas ini mencerminkan besarnya efek ekonomi dari salah satu agenda pariwisata unggulan Banyuwangi tersebut.
BACA JUGA :
Grib Jaya Desak Dinas Perdagkum Ponorogo Untuk Tindak Tegas Koperasi Bodong
Tahun ini, sejumlah desainer ternama kembali menjadi sorotan. Bubu Ramadhan, salah satu desainer kostum karnaval yang dikenal konsisten melahirkan karya spektakuler, tercatat tengah menggarap 11 kostum sekaligus. Sementara Rony Sanjaya, desainer asal Desa Aliyan, dipercaya menyelesaikan empat kostum megah, dan Heru Saputra dari Desa Bomo fokus menuntaskan tiga kostum.
Nilai ekonomi yang berputar dari industri kostum BEC pun tidak kecil. Harga satu kostum BEC berada di kisaran Rp10 juta hingga Rp20 juta, tergantung tingkat kerumitan desain, material, dan detail ornamen. Dengan jumlah pesanan yang tinggi, perputaran uang di sektor ini diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Bagi para kreator, BEC bukan sekadar proyek musiman. Ajang ini menjadi panggung prestisius untuk menunjukkan kapasitas artistik sekaligus memperkuat eksistensi mereka di dunia seni pertunjukan.
“BEC menjadi wadah kreativitas bagi para seniman untuk menuangkan ide, karena tema yang diusung selalu berbeda setiap tahun. Selain menjadi kebanggaan, ini juga membuka peluang penghasilan yang sangat menjanjikan bagi kami,” ujar Bubu Ramadhan, Kamis (18/6/2026).
Hal senada disampaikan Rony Sanjaya. Menurutnya, BEC merupakan etalase terbaik bagi karya-karya kreator lokal untuk dikenal lebih luas, termasuk oleh wisatawan mancanegara.
“BEC adalah momentum bagi seniman untuk menunjukkan kualitas karya terbaik Banyuwangi. Di sini detail, orisinalitas, dan karakter desain benar-benar diuji,” ungkap Rony.
Di balik kemegahan kostum yang tampil di panggung karnaval, terdapat rantai ekonomi yang melibatkan banyak tangan terampil. Proses produksi kostum BEC tidak hanya dikerjakan oleh desainer, tetapi juga melibatkan pengrajin ukir, pembuat aksesori, penjahit, hingga pekerja dekorasi.
Salah satu yang merasakan dampak positif adalah Sutik, pengrajin ukiran asal Kampung Melayu. Ia mengaku pesanan ornamen kostum seperti sayap, mahkota, dan dekorasi kepala meningkat signifikan menjelang BEC.
“Kami biasanya mengerjakan sayap dan mahkota kostum. Selain menambah penghasilan, ada kebanggaan tersendiri karena karya kami ikut tampil dalam event besar Banyuwangi,” katanya.
Fenomena ini memperlihatkan, bahwa Banyuwangi Ethno Carnival memiliki multiplier effect yang kuat terhadap ekonomi daerah. Tidak hanya menggerakkan sektor pariwisata, tetapi juga memperkuat ekosistem UMKM, industri kreatif, dan seni lokal.
Seluruh geliat ekonomi kreatif ini akan bermuara pada puncak pelaksanaan BEC 2026 yang mengusung tema “Perang Bayu: The Great War of Blambangan”. Tema tersebut mengangkat heroisme perjuangan rakyat Blambangan dalam sejarah perang besar yang sarat nilai keberanian dan identitas budaya lokal.
Rangkaian festival budaya spektakuler ini dijadwalkan berlangsung pada 17–19 Juli 2026. Dengan tema kepahlawanan yang kuat, publik dipastikan akan disuguhkan parade kostum megah hasil kolaborasi epik antara desainer dan pengrajin lokal.
BEC 2026 pun kembali menegaskan satu hal penting: di balik gemerlap panggung budaya, terdapat denyut ekonomi rakyat yang terus tumbuh, menjadikan festival ini sebagai simbol keberhasilan sinergi antara pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat Banyuwangi. (rag/bp-bwi)
Prev Article
Bupati Ipuk Tegaskan Tak Ada Pungutan Saat SPMB 2026, Sekolah Dilarang Jual Seragam dan Buku