Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Vivi Muryani dari Keresahan menjadi Perjuangan, Membangun Industri Porang Indonesia

KOMENTAR 1451

KOTA MADIUN || Bratapos.com - Berawal dari kepedulian terhadap kesejahteraan petani, Vivi Muryani, atau yang akrab disapa Vivi, kini menjadi salah satu sosok penting dalam industri porang di Indonesia. Melalui perusahaannya, CV KZ Porang Madiun, 

Kiprahnya tidak hanya memberikan edukasi kepada petani mengenai budidaya porang yang baik, tetapi juga berhasil membawa komoditas ini menembus pasar ekspor global, terutama ke Tiongkok.

BACA JUGA : Jelang Meras Kuntulan 2026, Kertosari Banyuwangi Matangkan Festival Kebangkitan Seni Tradisi

Perjalanan Vivi di dunia porang dimulai pada tahun 2022, saat ia menyadari banyak petani yang hidup dalam kondisi kurang layak meskipun mereka memiliki potensi besar dalam sektor pertanian. Salah satu peluang yang ia lihat adalah porang, tanaman asli Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan baik. 

Namun, lemahnya tata kelola pertanian di Indonesia membuat negara ini kecolongan. Pada tahun 2019, bibit porang justru diimpor ke Thailand, sehingga negara-negara seperti Thailand dan Myanmar kini juga turut memiliki dan mengembangkan komoditas tersebut.

Melihat kondisi tersebut, Vivi bersama timnya mulai berupaya meningkatkan kesadaran dan pemahaman petani mengenai cara budidaya porang yang benar serta potensi ekonominya. 

"Tidak hanya itu, kami juga menyoroti pentingnya penguatan rantai pasok industri porang di dalam negeri agar Indonesia dapat menjadi pemain utama di pasar global," jelasnya kepada bratapos.com dalam sebuah wawancara pada Jumat, 28 Februari 2025.

Lebih lanjut, Vivi juga mengungkapkan bahwa awalnya ia dan timnya hanya fokus pada sektor hulu, yakni edukasi dan budidaya porang. Namun, seiring berkembangnya industri dan meningkatnya permintaan ekspor, ia mulai merambah ke sektor hilir untuk memperkuat rantai pasok porang di Indonesia.

Ia juga menambahkan bahwa, perjuangannya tidak hanya sebatas edukasi dan budidaya. Melalui CV KZ Porang Madiun, ia juga berperan dalam membantu banyak perusahaan besar mendapatkan sertifikasi GACC (General Administration of Customs of China), yang merupakan syarat utama agar produk porang bisa diekspor ke Tiongkok. 

"Sertifikasi ini, menjadi kunci penting dalam memperluas pasar ekspor dan memastikan produk porang Indonesia dapat bersaing di tingkat global," imbuh Vivi.
 
Sementara itu, Thomas Cristady, suami Vivi yang akrab disapa Raja, yang turut berperan dalam mendukung perjuangan tersebut, mengatakan bahwa persaingan di pasar Tiongkok sangat ketat. 

Bahkan, di antara para eksportir sering terjadi persaingan yang kurang sehat, seperti saling lapor dan tuduh, yang kerap menghambat pengiriman barang di pelabuhan.

“Di China, persaingan sangat sengit, bahkan sering terjadi saling lapor dan tuduh yang menghambat keluarnya barang dari pelabuhan. Sedangkan di dalam negeri, persaingan masih lebih kompetitif,” tandas Raja.

Menurutnya, meski menghadapi banyak tantangan, CV KZ Porang Madiun tetap konsisten mengekspor porang dalam bentuk chip. Baru-baru ini, Kamis (27/2/2025) kami kembali mengirimkan dua kontainer dengan total 45 ton ke Tiongkok. 

Raja juga menyatakan bahwa seluruh produksi dilakukan di Madiun, dengan melibatkan petani lokal yang telah memiliki sertifikasi GAP (Good Agricultural Practices)

"Dengan harga ekspor mencapai Rp12.000 per kilogram, porang semakin membuktikan dirinya sebagai komoditas bernilai tinggi yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani," tambahnya.

CV KZ Porang Madiun dan timnya terus berupaya mengembangkan ekosistem porang Indonesia, agar dapat memberikan manfaat lebih besar bagi para petani dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Baginya, porang bukan sekadar tanaman biasa, tetapi merupakan harapan bagi banyak keluarga petani untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

“Jika dikelola dengan baik, Indonesia seharusnya bisa menjadi pemain utama dalam industri porang dunia. Ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang meningkatkan kesejahteraan petani dan membangun kemandirian pangan nasional,” pungkasnya. [Jhon Mongaz]

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Wali Kota Maidi & Wawali Bagus Panuntun Disambut Meriah, Siap Tancap Gas Bangun Kota Pendekar
Next Article
Polisi Bubarkan Aksi Perang Sarung di Madiun, Puluhan Remaja Diamankan

Related to this topic:

Be the first to write a comment.