Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Menepi Dalam Kebisingan: Tak Semua Hal Harus Dijawab dengan Perlawanan.

Senggigi||bratapos.com--Di tengah dunia yang semakin bising oleh opini, ambisi, dan pertarungan kepentingan, menepi sejenak bukan berarti menyerah. Ada kalanya seseorang perlu mengambil jarak untuk menjernihkan pikiran, menjaga prinsip, dan menemukan kembali makna dari setiap langkah yang dijalani.

Di tengah kehidupan yang semakin ramai oleh suara, manusia kerap terjebak dalam perlombaan untuk didengar, diakui, dan dianggap paling benar. Setiap orang berlomba menyampaikan pendapat, mempertahankan kepentingan, bahkan tidak jarang saling menjatuhkan demi mendapatkan pengakuan.

BACA JUGA : Ketua Umum PJI Hartanto Boechori Soroti Pertimbangan Hukum MK dalam Gugatan Syarat Pencalonan Gibran

Dalam situasi seperti itu, menepi dalam kebisingan menjadi sebuah pilihan yang memiliki makna mendalam. Bukan untuk melarikan diri dari kenyataan, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk berpikir lebih jernih, melihat persoalan secara utuh, dan menentukan sikap tanpa terbawa arus.

Tidak semua hal harus dijawab dengan suara keras. Tidak setiap tudingan harus dibalas dengan perdebatan. Dan tidak semua pertarungan harus dimenangkan untuk membuktikan bahwa seseorang memiliki nilai dan prinsip.

Ada saatnya diam menjadi bentuk pengendalian diri. Ada waktunya mengambil jarak justru menjadi cara terbaik untuk memahami keadaan. Sebab, keputusan yang lahir dari pikiran tenang sering kali lebih bernilai daripada tindakan yang didorong oleh emosi sesaat.

Menepi bukan berarti kehilangan keberanian. Justru, dibutuhkan kedewasaan untuk tidak larut dalam setiap kegaduhan, terutama ketika keadaan lebih banyak dipenuhi prasangka, kepentingan pribadi, dan penilaian yang belum tentu berpijak pada kebenaran.

Dalam kehidupan sosial, organisasi, maupun dunia profesional, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Namun, perbedaan seharusnya menjadi ruang untuk bertukar gagasan, bukan alasan untuk membangun permusuhan. Ketika dialog berubah menjadi pertarungan ego, terkadang langkah terbaik adalah berhenti sejenak, menata kembali tujuan, lalu melanjutkan perjalanan dengan sikap yang lebih bijaksana.

Menepi juga mengajarkan bahwa harga diri tidak selalu harus diperjuangkan melalui pembuktian di hadapan semua orang. Waktu, konsistensi, dan tindakan nyata sering kali menjadi jawaban yang lebih kuat daripada rangkaian kata-kata.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, paling ramai diperbincangkan, atau paling sering tampil di hadapan publik. Hidup adalah tentang bagaimana seseorang tetap menjaga integritas ketika berada dalam tekanan, mempertahankan prinsip ketika berhadapan dengan kepentingan, dan tetap berpihak pada kebenaran meskipun tidak selalu mendapatkan tepuk tangan.

Sebab, tidak semua keramaian membawa kebenaran, sebagaimana tidak semua kesunyian berarti kelemahan.

Menepi dalam kebisingan adalah seni menjaga kewarasan, merawat prinsip, dan memilih pertempuran yang benar-benar layak diperjuangkan. Bukan berhenti melangkah, melainkan memastikan bahwa langkah berikutnya memiliki arah, tujuan, dan makna.

Karena terkadang, untuk kembali berdiri lebih tegak, seseorang perlu menjauh sejenak dari kebisingan agar dapat mendengar suara hati dan kejernihan pikirannya sendiri.                                      

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
BPC PERADIN Jakarta Barat Soroti Reformasi UU Advokat: Hartono Suwongso.S.H, Dorong Profesi Advokat Lebih Profesional, Independen Dan Berintegritas
Next Article

Related to this topic:

Be the first to write a comment.