BANYUWANGI, BRATAPOS.com — Sebuah video berdurasi 7 menit 6 detik viral di media sosial TikTok setelah mengulas isu politik nasional yang dikaitkan dengan refleksi sejarah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Video tersebut diunggah oleh akun Cinta Sunah dan telah ditonton lebih dari 591,5 ribu kali sejak dipublikasikan pada Selasa (3/1/2026). Unggahan itu pun menuai beragam tanggapan dari warganet.
Dalam video tersebut, seorang perempuan menyampaikan kritik tajam terhadap sistem politik modern yang berbasis partai. Ia menilai bahwa pemimpin yang lahir dari rahim partai politik cenderung terikat kepentingan kekuasaan, jabatan, dan utang politik, sehingga sulit sepenuhnya berpihak pada kepentingan rakyat.
BACA JUGA :
Perkim kota Pasuruan sosialisasikan DED Paket Pekerjaan infrastruktur Permukiman 2026
“Partai itu mesin. Mesin butuh bensin. Bensinnya kekuasaan, jabatan, proyek, dan posisi,” ujar perempuan dalam video tersebut.
Ia menegaskan bahwa fenomena tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan hampir di seluruh dunia. Menurutnya, sistem politik modern membuat pemimpin kerap lebih dahulu mengurus kepentingan politik sebelum kepentingan publik.
Bandingkan Politik Modern dengan Keteladanan Nabi Muhammad SAW
Menariknya, narasi video kemudian bergeser ke perspektif sejarah. Pembuat konten tersebut mengutip pandangan sejumlah sejarawan Barat non-Muslim yang menilai Nabi Muhammad SAW sebagai figur kepemimpinan yang sulit dijelaskan dengan logika politik konvensional.
Disebutkan bahwa Nabi Muhammad, pada masa awal dakwah di Mekkah, pernah ditawari kekuasaan, harta, dan kedudukan oleh elite Quraisy. Namun seluruh tawaran tersebut ditolak, meski penolakan itu berujung pada tekanan, pemboikotan, hingga ancaman pembunuhan.
“Kalau Muhammad hanya ingin kuasa atau kekayaan, hidupnya selesai dengan aman saat itu. Tapi yang dipilih justru jalan paling berat,” tuturnya.
Pandangan Sejarawan Barat
Video tersebut juga mengutip pemikiran Thomas Carlyle, sejarawan asal Skotlandia, yang menyatakan bahwa sulit menyebut Nabi Muhammad sebagai penipu. Menurut Carlyle, seseorang yang menipu biasanya mencari keuntungan pribadi, sementara kehidupan Nabi Muhammad justru semakin sederhana dan penuh tekanan seiring meluasnya pengaruh dakwahnya.
Selain itu, nama Montgomery Watt turut disebut. Ia pernah menyatakan bahwa jika Nabi Muhammad dianggap sebagai penipu, maka ia adalah “penipu paling bodoh dalam sejarah”, karena tidak pernah menikmati hasil dari apa yang dituduhkan sebagai tipu daya tersebut.
Penulis Barat Michael H. Hart juga dikutip, yang menempatkan Nabi Muhammad sebagai satu-satunya tokoh dalam sejarah yang sukses secara spiritual dan politik, namun tidak meninggalkan warisan kemewahan, dinasti, atau istana.
Refleksi terhadap Kepemimpinan Masa Kini
Dalam video itu, pembuat konten kemudian mengajak publik untuk membandingkan kondisi kepemimpinan modern dengan keteladanan Nabi Muhammad. Ia menyoroti realitas politik saat ini yang kerap dipenuhi perhitungan elektoral, koalisi, pencitraan, dan kepentingan kelompok.
“Di zaman sekarang, hampir tidak ada pemimpin yang tidak memikirkan periode berikutnya, citra, atau kepentingan kelompok,” ucapnya.
Menurutnya, justru kesederhanaan hidup dan konsistensi Nabi Muhammad menjadi anomali dalam sejarah kekuasaan manusia. Semakin besar pengaruhnya, semakin sederhana kehidupannya.
Respons Publik dan Relevansi Sosial
Video tersebut memicu diskusi luas di media sosial. Sebagian warganet menilai konten itu sebagai refleksi kritis terhadap kondisi politik nasional, sementara yang lain menganggapnya sebagai pengingat moral tentang makna kepemimpinan dan kekuasaan.
Di akhir video, pembuat konten mengingatkan masyarakat untuk tetap kritis namun waspada dalam menyampaikan pendapat di ruang publik, mengingat adanya regulasi yang mengatur kritik terhadap pejabat dan pemimpin negara.
“Semoga kita bisa menyimak, memahami, dan mengambil hikmahnya,” tutupnya. (rag/bp-bwi)
Prev Article
Kapolresta Banyuwangi Silaturahmi ke PC NU, Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas dan Kerukunan Umat
Next Article
Diduga Terlibat Penyalahgunaan Narkotika, Oknum Perangkat Desa Mojorejo Jalani Rehabilitasi