Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Demi Nonton Gandrung Sewu 2026, Warga Terobos Jalur Laut saat Akses Darat Macet Parah

BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Membludaknya antusiasme masyarakat untuk menyaksikan pagelaran kolosal Gandrung Sewu 2026 bertajuk Kembang Dermo di Pantai Marina Boom Banyuwangi, Sabtu (24/10/2026) malam, memicu kepadatan lalu lintas di sejumlah akses menuju lokasi pertunjukan.

Di tengah padatnya arus kendaraan dan sulitnya menembus jalur darat, sejumlah warga memilih cara tak biasa. Mereka memanfaatkan jasa perahu untuk menyeberang melalui jalur laut, demi bisa menyaksikan langsung pertunjukan budaya kebanggaan Kabupaten Banyuwangi tersebut.

BACA JUGA : Tamsir Buton Soroti Ijin IPR Namun Yang Bekerja Perusahan PT TRI_M’Kementrian ESDM Di Minta Bertinda

Fenomena itu terlihat di kawasan depan Kuliner Fish Market Mandar, Banyuwangi. Sejumlah warga yang kesulitan mencapai lokasi melalui jalur darat, berinisiatif meminta bantuan pemilik perahu nelayan yang berada di sekitar kawasan tersebut.

Dari kesepakatan antara warga dan pemilik perahu, perjalanan menuju bibir pantai di belakang panggung utama Gandrung Sewu dikenakan tarif Rp10.000 per orang.

Antusiasme Tinggi, Konsep Glow in the Dark Jadi Daya Tarik

Gandrung Sewu tahun ini menghadirkan nuansa berbeda dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Jika biasanya digelar pada siang atau sore hari, pagelaran 2026 berlangsung pada malam hari dengan inovasi konsep Glow in the Dark atau menyala dalam gelap.

Konsep tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan. Pertunjukan kolosal yang memadukan seni tari, tradisi, dan tata visual bercahaya itu membuat warga berbondong-bondong datang ke Pantai Marina Boom.

Namun, tingginya jumlah pengunjung juga berdampak pada akses menuju kawasan pertunjukan. Sejumlah warga harus menghadapi kepadatan lalu lintas, perjalanan panjang, hingga mencari jalur alternatif agar tidak kehilangan kesempatan menyaksikan pagelaran tersebut secara langsung.

Berangkat Usai Maghrib, Warga Kalipuro Terjebak Kemacetan

Salah seorang warga Kecamatan Kalipuro, Iwan, mengaku sengaja datang bersama istrinya untuk menyaksikan Gandrung Sewu 2026. Ia berangkat dari rumah setelah menunaikan sholat Maghrib dengan mengendarai sepeda motor.

Menurut Iwan, kepadatan lalu lintas sudah terasa sejak perjalanan awal menuju lokasi. Meski demikian, ia tetap melanjutkan perjalanan karena penasaran dengan konsep pertunjukan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

“Saya berangkat dari rumah ba’da sholat Maghrib dan memang sengaja datang untuk menyaksikan pagelaran Gandrung Sewu. Apalagi katanya tahun ini ada yang berbeda dari tahun sebelumnya,” ujar Iwan.

Ia mengungkapkan, perubahan waktu pelaksanaan menjadi malam hari justru memberinya kesempatan untuk menikmati pertunjukan bersama sang istri. Kesibukan pekerjaan selama siang hingga sore hari membuatnya sulit menyempatkan diri untuk menonton.

“Kalau siang atau sore hari saya sibuk kerja, Mas. Kalau pelaksanaannya diganti malam hari, saya ada waktu. Makanya istri saya mengajak nonton bareng,” tuturnya.

Dari Rogojampi hingga Taman Blambangan, Perjalanan Dipenuhi Kepadatan

Pengalaman serupa dialami Lina, warga Kecamatan Srono, yang datang bersama rekannya menggunakan sepeda motor.

Lina mengaku mulai berangkat dari rumah sekitar pukul 17.00 WIB. Namun, kepadatan lalu lintas sudah dirasakannya saat perjalanan menuju kawasan Rogojampi dan semakin menyulitkan ketika mendekati pusat Kota Banyuwangi.

Puncak kemacetan yang dirasakannya terjadi di kawasan Perempatan Taman Blambangan. Meski menggunakan sepeda motor, Lina tetap harus melaju perlahan untuk melewati kepadatan kendaraan.

Dalam perjalanan, ia sempat tersasar ketika mencoba mencari jalur alternatif. Upaya tersebut akhirnya membawanya ke kawasan plengsengan di depan Kuliner Fish Market Mandar.

“Pokoknya penuh perjuangan, Mas, untuk bisa memasuki Pantai Boom Marina. Karena macet dan perjalanan sulit, saya mencoba mencari jalan alternatif. Sampailah saya di sini,” ungkap Lina.

Terjebak Macet, Warga Berinisiatif Menyeberang Menggunakan Perahu

Lamanya perjalanan dan sulitnya akses darat, kemudian memunculkan ide di kalangan warga yang berada di sekitar kawasan Fish Market Mandar. Melihat sejumlah perahu nelayan terparkir, mereka mencoba berkomunikasi dengan warga setempat dan pemilik perahu untuk mencari kemungkinan menyeberang menuju lokasi pertunjukan.

Ide tersebut mendapat sambutan dari warga lain yang juga ingin menyaksikan Gandrung Sewu secara langsung. Setelah berdiskusi, sejumlah pemilik perahu bersedia mengantarkan penumpang menuju bibir pantai di belakang panggung utama.

Pemilik salah satu perahu yang enggan disebutkan namanya menegaskan bahwa layanan tersebut bukan inisiatif untuk memanfaatkan kemacetan, melainkan respons atas permintaan warga yang kesulitan mencapai lokasi melalui jalur darat.

“Sebenarnya kami tidak ada maksud mengantarkan warga menggunakan perahu, terlebih memanfaatkan kemacetan. Ini permintaan warga yang ingin menonton langsung Gandrung Sewu,” ujarnya.

Terkait tarif Rp10.000 per orang, ia menjelaskan bahwa nominal tersebut ditentukan setelah melalui pembicaraan bersama sejumlah pemilik perahu dan warga yang ingin menyeberang.

“Awalnya kami bingung bagaimana caranya. Kemudian kami berembuk dengan pemilik perahu lain, termasuk warga yang mendesak ingin menonton Gandrung Sewu. Akhirnya disepakati tarif Rp10.000 per orang,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembatasan jumlah penumpang diberlakukan untuk menjaga keselamatan selama perjalanan. Setiap perahu dibatasi maksimal mengangkut 12 orang.

“Tarif tersebut muncul dari usulan warga sendiri. Yang terpenting mereka bisa sampai ke lokasi pagelaran Gandrung Sewu. Untuk menjaga faktor keselamatan, kami membatasi satu perahu maksimal 12 orang,” pungkasnya.

Antusiasme Budaya dan Catatan Penting Pengelolaan Akses

Fenomena warga yang rela menempuh jalur laut demi menyaksikan Gandrung Sewu 2026 menjadi gambaran besarnya daya tarik agenda budaya tahunan tersebut. Bagi masyarakat, pagelaran ini bukan sekadar tontonan, melainkan juga momentum untuk menikmati kekayaan seni dan tradisi Banyuwangi dalam kemasan yang berbeda.

Di sisi lain, kepadatan yang terjadi di akses menuju Pantai Marina Boom menjadi catatan penting bagi pengelolaan arus pengunjung pada penyelenggaraan berikutnya. Antusiasme besar masyarakat perlu diimbangi dengan pengaturan lalu lintas, akses masuk dan keluar, serta informasi jalur alternatif yang memadai.

Sebab, keberhasilan sebuah pagelaran budaya tidak hanya diukur dari kemegahan pertunjukan di atas panggung, tetapi juga dari kenyamanan dan keselamatan masyarakat yang datang untuk menikmatinya. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Tamsir Buton Soroti Ijin IPR Namun Yang Bekerja Perusahan PT TRI_M’Kementrian ESDM Di Minta Bertinda
Next Article

Related to this topic:

Be the first to write a comment.