BANYUWANGI, BRATAPOS.com — Suasana Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banyuwangi mendadak memanas namun tetap kondusif ketika ratusan kepala desa menggelar aksi damai, Senin (17/11/2025) siang. Di tengah sorotan publik yang mengarah kepadanya, Anggota Dewan Banyuwangi sekaligus Ketua Fraksi Partai Gerindra yakni Suwito, tampil dengan sikap kenegarawanan yang dinilai matang, patriotik, dan pantas diteladani.
Di hadapan 189 kepala desa, Suwito dengan lantang menyampaikan klarifikasi atas pernyataannya yang sebelumnya dinilai menuai kontroversi. Meski diketahui berada dalam tekanan, ia tetap memilih untuk meredam kegaduhan demi menjaga stabilitas daerah.
BACA JUGA :
Kopassus Perkuat Ketahanan Pangan Nasional, Dukung Pengembangan Budidaya Jagung di Banyuwangi
Dalam pidato terbukanya, Suwito menyampaikan rasa hormat kepada seluruh kepala desa dan awak media yang hadir, sembari menegaskan pentingnya menjaga ruang dialog yang sehat.
“Terima kasih karena hari ini kita dapat berkumpul untuk membahas berbagai persoalan, mempererat silaturahmi, serta saling melengkapi kekurangan kita masing-masing,” ucap Suwito.
Suwito kemudian secara terbuka mengakui kesalahan ucapannya. “Saya mengakui, bahwa apa yang saya ucapkan kemarin adalah keliru. Saya memohon maaf dengan tulus. Tidak ada maksud atau kepentingan apa pun dari perkataan tersebut,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa niatnya murni agar stakeholder penyelenggaraan pemerintah di Banyuwangi, baik kepala desa maupun perangkat daerah, dapat menjalankan amanah sebaik-baiknya.
Suwito juga menegaskan sikapnya terhadap praktik korupsi. Mengkorupsi dana, dalam bentuk apapun, adalah perbuatan salah. Pada posisi bagaimanapun kita berada, jangan pernah melakukan hal tersebut.
Melalui kesempatan ini, ia secara resmi menarik kembali perkataannya dan mengajak seluruh elemen pemerintahan bersinergi mengawal program pusat agar tepat sasaran dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Meski tampil lugas dan penuh tanggung jawab, sumber internal menyebutkan bahwa klarifikasi Suwito tidak sepenuhnya lahir dari hati nurani. Ia disebut berada dalam tekanan moral maupun politik akibat reaksi keras dari sebagian kepala desa demi kondusifitas Banyuwangi.
Namun, di tengah tekanan itu, keberanian Suwito untuk tampil langsung, meminta maaf, dan meredakan ketegangan tetap dianggap sebagai langkah dewasa dan ksatria demi kepentingan daerah.
Sikap Suwito mendapatkan perhatian khusus dari Guntur Mardianto, pentolan Aliansi Pengawal Suara Rakyat (APSR) . Ia menyampaikan keprihatinannya atas situasi yang menimpa Suwito.
“Kami merasa prihatin atas apa yang dialami Suwito, karena kami tahu ia orang yang berkomitmen dan selalu menepati janji,” ungkap Guntur.
Menurut Guntur, tekanan yang dialami Suwito menjadi catatan penting bahwa diskursus publik harusnya dikedepankan secara sehat, tanpa intimidasi dan tanpa menggerus marwah lembaga maupun individu.
Momentum klarifikasi ini menjadi pembelajaran politik penting di Banyuwangi. Langkah Suwito meredam konflik verbal dengan kepala desa menunjukkan bahwa stabilitas daerah tidak boleh dikorbankan oleh pernyataan yang di luar konteks.
Ia menutup pernyataannya dengan ajakan bersama. “Mari menjaga Banyuwangi agar tetap kondusif, aman, dan sejahtera. Dengan bekerja sama, kita bisa membangun daerah ini dengan lebih baik,” pungkas Suwito.
Dengan ketegangan yang perlahan mereda, publik menantikan tindak lanjut yang lebih elegan dan solutif dari semua pihak, demi menjaga agenda pembangunan Banyuwangi tetap berjalan tanpa gangguan. (rag/bp-bwi)
Prev Article
Polres Madiun Resmi Gelar Operasi Zebra Semeru 2025, Fokus Tingkatkan Disiplin dan Keselamatan Berlalu Lintas
Next Article
Transparansi Pengelolaan Anggaran Desa Temu Kecamatan Prambon Dipertanyakan