Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Ironi Dunia Pendidikan, Kepala Sekolah MI Al-Fajar Banyuwangi Bekerja di Ruang Bekas Gudang

BANYUWANGI, BRATAPOS.com — Potret memprihatinkan dunia pendidikan dasar kembali mencuat dari pelosok selatan Kabupaten Banyuwangi. Sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Fajar yang berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU), tepatnya di Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, harus berjuang dengan kondisi sarana yang jauh dari kata layak.

Ruang kepala sekolah di lembaga pendidikan tersebut terpaksa difungsikan ganda, menjadi ruang kerja, gudang penyimpanan inventaris, sekaligus dapur sederhana yang hanya disekat dengan papan triplek. 

BACA JUGA : CESGS Apresiasi Sepuluh Perusahaan melalui ESG Leadership Award 2026

Di ruangan sempit itu, tumpukan barang sekolah bercampur dengan peralatan dapur dan perlengkapan kebersihan. Sebuah meja kecil, kursi plastik untuk tamu, dan aroma khas kayu bekas menjadi pemandangan sehari-hari di ruang pimpinan madrasah tersebut.

 

 

Kepala MI Al-Fajar, Sugianto, membenarkan kondisi tersebut saat ditemui awak media pada Jumat (31/10/2025). Ia menuturkan, ruang kepala sekolah yang kini ditempatinya sejatinya bukanlah ruang kantor, melainkan bekas gudang yang disulap secara mandiri agar bisa berfungsi sebagai tempat kerja.

“Awalnya ini gudang bekas tumpukan kayu. Sebenarnya di sebelah timur ada ruang kantor, tapi saya merasa kurang nyaman untuk teman-teman pengajar yang mau ngobrol atau curhat. Akhirnya saya menempati ruang kecil ini dan menata seadanya,” ujar Sugianto dengan nada tenang, namun tersirat keprihatinan.

Menurutnya, keterbatasan lahan dan fasilitas menjadi kendala utama yang membuat pihak madrasah harus memanfaatkan setiap sudut ruang yang ada. Berbagai barang inventaris sekolah, seperti alat olahraga, kesenian, hingga dokumen lama, menumpuk di satu ruangan.

“Kalau kita lihat tulisan di depan memang ‘Ruang Kepala Sekolah’, tapi begitu masuk ya seperti gudang. Banyak tamu yang tidak nyaman duduk di sini, tapi apa boleh buat, kondisinya memang begini,” tuturnya.

 

 

Lebih ironis lagi, di bagian belakang ruangan terdapat area kecil yang difungsikan sebagai dapur untuk membuat kopi dan minuman bagi guru atau tamu. Sekat triplek sederhana, menjadi pembatas antara area kerja dan dapur tersebut.

Sugianto menjelaskan, bahwa selama tiga tahun terakhir pihaknya terus berupaya mencari solusi agar kondisi ruangan bisa lebih layak, namun belum menemukan jalan keluar karena keterbatasan dana dan lahan.

“Kami bukan tidak berusaha. Tapi karena status madrasah swasta di bawah Ma’arif NU, bantuan dari pemerintah sangat terbatas. Padahal tanggung jawab kami sama, mendidik anak-anak agar berakhlak mulia dan berilmu,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah daerah, khususnya Kantor Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, dapat turun langsung melihat kondisi nyata madrasah-madrasah swasta di pelosok.

“Kami ingin pemerintah tidak hanya melihat data atau pemberitaan, tapi datang langsung. Dengan melihat kondisi seperti ini, saya yakin nurani siapa pun akan tergerak. Walau mungkin tidak ada anggaran khusus, tapi kalau ada kemauan, pasti ada jalan untuk membantu,” harapnya.

 

 

MI Al-Fajar Kedungwungu adalah salah satu lembaga pendidikan yang menjadi benteng karakter bagi anak-anak desa. Meski serba terbatas, semangat para guru tetap menyala dalam mendidik generasi penerus bangsa. Kondisi ruang kepala sekolah yang multifungsi itu menjadi simbol nyata perjuangan pendidikan di akar rumput, di mana idealisme harus berjalan seiring dengan keterbatasan.

Potret seperti ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah dan masyarakat, bahwa masih banyak lembaga pendidikan kecil yang bertahan dengan segala keterbatasan, namun tetap teguh mengabdi demi mencetak anak bangsa yang berakhlakul karimah. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Bea Cukai Madiun Gagalkan Peredaran 12.236 Batang Rokok Ilegal, Sanksi Administratif Capai Rp 27,8 Juta
Next Article
Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Madiun, Soroti Penurunan PAD dan Kenaikan Belanja Modal dalam Pembahasan RAPBD 2026

Related to this topic:

Be the first to write a comment.