Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Tingkatkan Pencegahan, Banyuwangi Gelar Skrining TBC Serentak di 25 Puskesmas

BANYUWANGI, BRATAPOS.com — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi terus memperkuat langkah pengendalian Tuberkulosis (TBC) melalui skrining serentak di 25 puskesmas. Upaya ini menjadi bagian dari strategi besar daerah, dalam menekan penularan sekaligus mempercepat penemuan kasus baru.

Sejak awal tahun, ribuan kader posyandu di setiap wilayah juga digerakkan melakukan jemput bola mendeteksi gejala TBC dari rumah ke rumah. Program ini menjadi garda terdepan dalam menemukan kasus lebih dini, sehingga penanganan bisa dilakukan cepat dan tepat.

BACA JUGA : Puluhan GEN Z Kelapa Dua ikut Seleksi Calon PASKIBRAKA 17 Agustus 2026

Saat meninjau pelaksanaan skrining di Puskesmas Mojopanggung, Kecamatan Giri, Rabu (12/11/2025), Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan pentingnya langkah deteksi dini dalam memutus mata rantai penularan.

“Dengan deteksi dini TBC, penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan risiko penularan dapat ditekan. Ini yang terus kami dorong di seluruh fasilitas kesehatan,” ujar Ipuk.

Bupati Ipuk juga mengajak masyarakat menjaga pola hidup sehat, memperhatikan kebersihan lingkungan, dan meningkatkan imunitas keluarga. Menurutnya, pencegahan tidak hanya berfokus pada pengobatan, namun harus menyentuh aspek sanitasi rumah tangga.

“Menjaga gizi, pola hidup sehat, mengurangi kebiasaan merokok, serta memperbaiki sanitasi adalah upaya bersama. Semua ini saling berkaitan dalam mencegah TBC,” tuturnya.

Bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) 12 November, Pemkab Banyuwangi juga memberikan bantuan sembako kepada pasien TBC dari keluarga pra sejahtera. Bantuan ini bersumber dari program Belanja Cantik 11:11, sebuah gerakan ASN dan lintas instansi untuk berbelanja di warung rakyat dan menyalurkan hasil belanja kepada warga kurang mampu.

“Khusus bulan November, bantuan tidak hanya untuk keluarga pra sejahtera dan anak stunting, tapi juga disalurkan kepada pasien TBC,” jelas Ipuk.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini menggerakkan 11.684 kader posyandu untuk melakukan active case finding atau pencarian aktif kasus TBC. Para kader ini juga bertugas sebagai Pengawas Minum Obat (PMO) untuk memastikan pasien benar-benar mengonsumsi obat secara teratur.

Selain penanganan medis, Dinkes turut memperbaiki kondisi rumah pasien yang dinilai berisiko penularan karena minim cahaya dan sirkulasi udara.

“Untuk rumah dengan ventilasi buruk, kami bantu pemasangan genteng kaca agar sinar matahari bisa masuk. Edukasi tentang pencegahan dalam keluarga juga kami perkuat,” kata Amir.

Dinkes juga memastikan pasien yang terkonfirmasi positif akan langsung mendapatkan pengobatan rutin melalui puskesmas. Sementara kontak erat tanpa gejala diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).

“Sampai saat ini tidak ada kasus kematian akibat TBC di Banyuwangi. Fokus kita adalah pencegahan, rumah sehat, dan pengobatan tuntas,” tegasnya.

Untuk kasus TBC resisten obat (TB MDR), Pemkab Banyuwangi menyiapkan layanan khusus di RSUD Blambangan, lengkap dengan ruang isolasi dan dokter penanggung jawab yang terlatih menangani kasus kompleks tersebut.

Salah satu pasien TBC, Suhaimi (57), warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, merasakan langsung layanan komprehensif tersebut. Selama tiga bulan menjalani pengobatan, ia mendapat pendampingan dari petugas puskesmas yang rutin mengantar obat ke rumahnya.

“Semua pengobatan gratis, dari puskesmas sampai rumah sakit tidak dipungut biaya. Bahkan saat saya harus rawat inap empat hari, semua ditangani dengan baik. Petugas juga rutin datang memantau,” ungkapnya.

Dengan sinergi kader posyandu, puskesmas, rumah sakit, dan dukungan masyarakat, Banyuwangi terus memperkuat komitmen menuju eliminasi TBC. Strategi pencegahan berbasis komunitas, deteksi dini masif, dan perbaikan sanitasi rumah menjadi fondasi penting dalam memastikan kasus tidak bertambah dan penularan dapat dihentikan.

Banyuwangi menunjukkan bahwa pengendalian TBC bukan hanya tugas tenaga kesehatan, tetapi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Posal Muncar, Sungai Watch, dan Instansi Terkait Kompak Gelar Big Clean Up di Pantai Sampangan
Next Article
TNI–PMI Kolaborasi Perkuat Rumah Aman Gempa, Retrofitting di Bakungan Jadi Proyek Percontohan Banyuwangi

Related to this topic:

Be the first to write a comment.