BANYUWANGI || Bratapos.com – Ratusan anggota Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) se-Kabupaten Banyuwangi menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 PWRI yang dipusatkan di Gedung Serbaguna Universitas PGRI Banyuwangi (UNIBA), Sabtu (13/9/2025).
Tahun ini, peringatan HUT PWRI mengusung tema “Dengan Semangat Merah Putih, PWRI Tingkatkan Persatuan dan Kesatuan untuk Mewujudkan Kesejahteraan Lansia Menuju Indonesia Emas 2045.” Peringatan tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga momentum refleksi dan peneguhan peran para pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam pembangunan bangsa.
BACA JUGA :
Puluhan GEN Z Kelapa Dua ikut Seleksi Calon PASKIBRAKA 17 Agustus 2026
Acara berlangsung khidmat dengan dihadiri Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, bersama jajaran SKPD. Hadir pula mantan Bupati Banyuwangi periode 2005–2010, Dr. Ratna Ani Lestari, S.E., M.M., mantan Ketua PWRI Banyuwangi, H. Susanto, serta sejumlah tokoh organisasi seperti PEPABRI, PPAD, PPAL, PP Polri, DHC 45, LVRI, GOW, hingga Yayasan Gerontologi Abiyoso Banyuwangi.
Ketua PWRI Banyuwangi, Dr. H. Ahmad Masduki Suud, M.M., yang juga mantan Sekda Banyuwangi, menegaskan bahwa PWRI bukan sekadar wadah berkumpulnya para pensiunan, tetapi juga ruang aktualisasi yang tetap hidup dan produktif.
“Semangat inilah yang menjadi kekuatan PWRI untuk tetap guyub dan bermanfaat bagi masyarakat. Saya berharap setelah masa jabatan saya berakhir pada Juli 2026, PWRI tetap dipimpin sosok yang dekat dengan anggota dan mampu membawa organisasi ini semakin maju,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Ipuk Fiestiandani dalam sambutannya menyebut PWRI sebagai “laboratorium hidup”. Menurutnya, pengalaman panjang para purnawirawan merupakan sumber ilmu yang tak ternilai bagi generasi penerus.
“PWRI tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga sekolah kehidupan bagi ASN yang masih aktif. Pengelolaan keuangan, kesehatan mental, hingga kehidupan keluarga adalah hal penting yang bisa diwariskan dari pengalaman Bapak-Ibu sekalian,” tegas Bupati Ipuk.
Bupati juga menambahkan, Pemkab Banyuwangi siap memfasilitasi berbagai kegiatan PWRI, mulai dari pemanfaatan pendopo, aula dinas, hingga fasilitas pemerintah daerah lainnya. Ia turut memaparkan sejumlah capaian pembangunan Banyuwangi tahun 2025 yang selaras dengan arah kebijakan nasional di bawah kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto.
Capaian tersebut antara lain penurunan angka kemiskinan dari 6,54 persen pada tahun 2024 menjadi 6,14 persen di tahun 2025, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan melalui program Sekolah Rakyat bagi anak-anak kurang mampu, serta pertumbuhan ekonomi yang naik menjadi 5,85 persen dengan kontribusi besar dari sektor pertanian, perikanan, UMKM, perdagangan, jasa, dan pariwisata.
“Keberhasilan ini tentu bukan semata kerja pemerintah, tetapi juga berkat doa, pengalaman, dan teladan dari para senior dan purnawirawan,” ungkapnya.
Ketua Panitia HUT ke-63 PWRI Banyuwangi, Drs. H. Sulihtiyono, M.M., M.Pd., dalam laporannya memaparkan sejarah singkat organisasi PWRI. Didirikan pada 24 Juli 1962 di Yogyakarta, PWRI lahir dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan para pensiunan sekaligus tetap berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
Ia juga menjelaskan makna filosofis nama Wredatama yang berasal dari bahasa Sanskerta: Wreda berarti tua atau senior, dan Tama berarti utama. Hal ini menegaskan bahwa meski telah purna tugas, para pensiunan tetap menjadi pribadi utama dengan pengalaman, kearifan, dan peran penting bagi masyarakat.
Selain itu, PWRI memiliki organisasi pendamping bernama Kerta PWRI, wadah bagi istri-istri pensiunan PNS/ASN, BUMN, maupun BUMD untuk berkiprah dalam kegiatan sosial, kekeluargaan, dan pengabdian.
“PWRI bukan sekadar tempat berkumpulnya para pensiunan, melainkan ruang kebersamaan yang menjaga semangat pengabdian agar tidak pernah padam. Melalui wadah ini, para senior tetap bisa berbagi pengalaman, memberikan teladan, sekaligus mendukung pembangunan daerah,” ujar Sulihtiyono.
Puncak acara ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Ipuk Fiestiandani yang kemudian diserahkan kepada Ketua PWRI Banyuwangi sebagai simbol rasa syukur. Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pemberian santunan kepada anak yatim piatu, doa bersama untuk para pendiri dan anggota PWRI yang telah wafat, serta penampilan seni budaya.
Gamelan karawitan, paduan suara yang membawakan lagu khas Banyuwangi, hingga tari tradisional Sorote Lintang kolaborasi pelajar SD dan SMA, semakin menambah semarak suasana dengan nuansa kearifan lokal.
Kemeriahan tersebut menjadi bukti bahwa meski telah purna tugas, para anggota PWRI tetap berdaya, produktif, serta mampu memberi warna dalam kehidupan sosial dan pembangunan daerah.
Peringatan HUT ke-63 PWRI Banyuwangi pun berlangsung hangat dalam balutan kekeluargaan. Lebih dari sekadar seremoni, momentum ini menjadi ruang refleksi sekaligus energi baru untuk meneguhkan peran pensiunan dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045. (rag/bp-bwi)