Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

PWRI Banyuwangi Jadi “Laboratorium Hidup”, Bupati Ipuk Dorong Pensiunan Jadi Mentor ASN Muda

BANYUWANGI || Bratapos.com – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Banyuwangi yang digelar di Gedung Universitas Banyuwangi (Uniba), Sabtu (13/9/2025), menjadi ajang refleksi atas kontribusi para pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) bagi daerah. 

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut PWRI sebagai “laboratorium hidup” yang kaya akan pengalaman dan kearifan, sekaligus mendorong para pensiunan untuk menjadi mentor bagi generasi ASN yang masih aktif.

BACA JUGA : Puluhan GEN Z Kelapa Dua ikut Seleksi Calon PASKIBRAKA 17 Agustus 2026

Menurut Ipuk, nilai utama PWRI terletak pada akumulasi pengalaman para anggotanya yang berasal dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari guru, birokrat, hingga purnawirawan TNI/Polri.

“Inilah kekuatan PWRI. Dengan pengalaman panjang yang dimiliki, PWRI harus bisa menjadi sekolah kehidupan bagi ASN yang masih aktif. Dari para senior, mereka bisa belajar bukan hanya soal peningkatan kinerja, tapi juga kearifan dalam mengelola hidup,” kata Bupati Ipuk.

Bupati menambahkan, banyak kasus ASN yang kesulitan menghadapi masa pensiun, khususnya karena kurang cermat dalam mengatur keuangan maupun menjaga kesehatan. Atas dasar itu, Pemkab Banyuwangi berharap PWRI menjadi medium transfer pengetahuan praktis tentang manajemen hidup.

“PWRI bisa menularkan best practice, mulai dari mengelola keuangan, menjaga kesehatan fisik, hingga membangun ketahanan mental. Dengan begitu, ASN yang pensiun tetap produktif dan berdaya, bukan justru terjebak masalah,” tegas Ipuk.

Acara HUT ke-63 PWRI berlangsung hangat dalam nuansa kekeluargaan. Ratusan pensiunan hadir dan saling bertukar cerita. Lebih dari sekadar forum silaturahmi, peringatan ini juga menjadi ruang ekspresi, ditandai dengan penampilan gamelan karawitan, paduan suara dan berbagai kreativitas dari para purna tugas.

Dalam sambutannya, Ipuk juga menegaskan bahwa status pensiun tidak berarti berhenti mengabdi.

“Purna tugas dari birokrasi bukan berarti berhenti dari pengabdian. Pemkab Banyuwangi tetap membutuhkan ide, saran, dan arahan dari Bapak/Ibu. Pembangunan Banyuwangi adalah kerja kolektif, dan kontribusi PWRI tetap sangat penting,” ujarnya.

Ipuk menilai keberhasilan Banyuwangi saat ini tidak lepas dari jejak kerja keras generasi sebelumnya, termasuk para anggota PWRI. Karena itu, kolaborasi lintas generasi harus terus diperkuat.

“Semoga sinergi yang sudah terjalin semakin kokoh. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung eksistensi PWRI Banyuwangi,” tutup Ipuk.

Pernyataan Ipuk meneguhkan posisi PWRI sebagai mitra strategis pemerintah daerah. Organisasi ini bukan sekadar wadah berkumpulnya para pensiunan, melainkan motor moral dan sosial yang menjaga kesinambungan pembangunan lintas generasi. Dari ruang pertemuan formal hingga aktivitas sosial di masyarakat, para purnatugas masih memegang peran penting dalam memberikan arah dan warna bagi pembangunan Banyuwangi.

Dengan menjadikan PWRI sebagai “laboratorium hidup”, Banyuwangi tidak hanya merawat jejak pengabdian masa lalu, tetapi juga menyiapkan masa depan yang lebih bijak, tangguh, dan berkelanjutan. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Pegawai Aktif dan Pensiunan PDAM Kota Madiun, Diminta Kembalikan Kelebihan Jasa Produksi 2021
Next Article
Dirgahayu ke-63 PWRI, Pensiunan ASN Banyuwangi Jadi “Laboratorium Hidup” Menuju Indonesia Emas 2045

Related to this topic:

Be the first to write a comment.