BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Mimpi menembus kampus-kampus terbaik dunia kini semakin terbuka bagi pelajar dan mahasiswa Banyuwangi. Melalui Blambangan International Education Festival (BINEF) 2026, generasi muda daerah didorong tidak hanya berani bermimpi, tetapi juga membangun kompetensi dan jejaring internasional untuk mewujudkannya.
BINEF 2026 resmi dibuka Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Kampus Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi), Rabu (12/8/2026). Festival pendidikan internasional yang berlangsung pada 12–13 Agustus 2026 tersebut diikuti lebih dari 100 pelajar dan mahasiswa dari berbagai wilayah di Banyuwangi.
BACA JUGA :
Buka Forum Transparansi Program Sekolah, Komite Tegaskan Sumbangan Bersifat Sukarela.!!
Mengusung tema “Establishing Banyuwangi Student Connectivity to Prepare Superior Human Resources for Indonesia’s Future”, BINEF 2026 menjadi ruang bertemunya pelajar, mahasiswa, akademisi, penerima beasiswa, serta diaspora Indonesia untuk memperluas akses informasi pendidikan global.
Sejumlah figur yang telah memiliki pengalaman menempuh pendidikan di luar negeri turut dihadirkan sebagai narasumber. Di antaranya Syaeful Mujab, penerima beasiswa LPDP yang menempuh studi S2 di London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris; Hardika Dwi Hermawan, penerima beasiswa LPDP yang menempuh Master of Science di Hong Kong University sekaligus pendiri Desamind; serta Achmad Roghib Mabrur, putra Banyuwangi yang kini menempuh pendidikan doktoral di National Chung Hsing University, Taiwan.
Dalam sambutannya, Bupati Ipuk menegaskan bahwa perubahan teknologi dan dinamika dunia kerja menuntut generasi muda memiliki kemampuan yang jauh lebih adaptif.
Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya mempersiapkan generasi muda untuk memasuki pekerjaan yang tersedia saat ini. Mereka juga harus dibekali kemampuan untuk menghadapi jenis pekerjaan baru yang kemungkinan besar muncul seiring perkembangan teknologi.
Ipuk merujuk laporan World Economic Forum Future of Jobs 2025 yang memperkirakan hingga 2030 akan tercipta sekitar 170 juta pekerjaan baru, sementara sekitar 92 juta pekerjaan yang ada saat ini berpotensi tergantikan.
“Pendidikan tidak boleh hanya menyiapkan anak-anak untuk pekerjaan hari ini, tetapi juga untuk pekerjaan yang bahkan belum ada saat ini,” ujar Ipuk.
Ia menilai penguasaan teknologi digital, kecerdasan buatan, transisi energi, serta kemampuan membangun jejaring internasional menjadi modal penting bagi generasi muda untuk menghadapi perubahan tersebut.
“Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan dan transisi energi telah mengubah kebutuhan tenaga kerja secara drastis. Karenanya generasi muda harus memiliki penguasaan dan kemampuan di bidang ini sebagai bekal menghadapi masa depan. Dan yang penting berjejaring untuk mendapatkan peluang yang lebih luas,” tegasnya.
BINEF 2026 juga membawa pesan kuat bahwa keterbatasan geografis bukan alasan bagi anak daerah untuk membatasi cita-cita. Pesan tersebut disampaikan Syaeful Mujab yang hadir membagikan pengalaman mendapatkan beasiswa, hingga dapat menempuh pendidikan di salah satu institusi pendidikan bergengsi dunia di Inggris.
Ia mengajak pelajar dan mahasiswa Banyuwangi, untuk tidak minder hanya karena berasal dari daerah.
“Jangan berkecil hati meskipun kita berasal dari daerah. Siapapun dari kita bisa mempunyai mimpi besar dengan berusaha untuk mencapainya. Persiapkan diri dengan baik, insyaallah kita bisa mencapai mimpi itu,” ujarnya.
Mujab juga menekankan pentingnya kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, sebagai salah satu pintu masuk menuju kesempatan pendidikan dan jejaring global.
Menurutnya, kemampuan bahasa tidak hanya dibutuhkan untuk mengikuti pendidikan di luar negeri, tetapi juga membuka kesempatan mengikuti konferensi internasional hingga membangun relasi dengan masyarakat dari berbagai negara.
“Dengan bahasa membuka kesempatan untuk sekolah, ikut konferensi hingga membangun jejaring internasional. Manfaatkan media sosial untuk mencari informasi beasiswa dan pertemanan global,” ungkapnya.
BINEF 2026 tidak berhenti pada seminar dan berbagi pengalaman. Para peserta juga mendapatkan fasilitas pengembangan kapasitas untuk mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Ketua Penyelenggara BINEF 2026, Achmad Roghib Mabrur, mengatakan peserta memperoleh bimbingan bahasa Inggris secara gratis selama satu tahun serta kesempatan mengikuti pre-test IELTS.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu peserta memetakan kemampuan bahasa, sekaligus mempersiapkan salah satu persyaratan penting untuk mendaftar ke berbagai perguruan tinggi dan program beasiswa internasional.
“Bahasa Inggris jadi kunci untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Mereka juga mendapatkan bimbingan mentoring gratis selama setahun untuk coaching tips and trip mendapatkan beasiswa di kampus internasional,” pungkas Roghib.
Dengan konsep tersebut, BINEF 2026 tidak sekadar menjadi festival pendidikan tahunan. Kegiatan ini diarahkan menjadi ekosistem yang mempertemukan potensi anak-anak Banyuwangi dengan informasi, mentor, beasiswa, serta jejaring internasional.
Dari daerah, mimpi global itu kini mulai dibangun melalui satu hal yang paling mendasar: memberikan akses dan keberanian kepada generasi muda untuk percaya bahwa kampus dunia bukanlah sesuatu yang mustahil. (rag/bp-bwi)
Prev Article
Semarak Karnaval Kebangsaan Banyuwangi 2026, Dandim 0825 Serukan Semangat Persatuan
Next Article
Karnaval Kebangsaan Banyuwangi 2026 Jadi Panggung Kebinekaan, Ribuan Pelajar Tampilkan Budaya Nusantara