Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Trend Kemenangan Calon Tunggal Semakin Menguat Pilkada Gresik

Gresik || Bratapos.com - Pilkada serentak 2024 tinggal hitungan bulan di gelar 27 November. Komisi pemilihan umum atau KPU Jawa Timur, mencatat ada 5 dari 38 kabupaten/kota yang hanya di ikuti satu calon tunggal. Setelah berakhirnya masa pendaftaran, 5 daerah tersebut adalah kabupaten Trenggalek, Ngawi, Gresik, kota Pasuruan dan kota Surabaya.

Fenomena calon tunggal di pilkada Gresik adalah bentuk dinamika politik yang mencerminkan tidak adanya calon lain yang cukup kuat dan populer. Untuk menantang calon dominan yakni incumbent Paslon Ya-Alif. Dalam sebuah diskusi yang gayeng dan cair pegiat media Novan, yang juga sekaligus ketua dari NGO lembaga pemantau birokrasi (LPB) menepis adanya tudingan minor tentang adanya calon tunggal yang memborong rekom parpol.

BACA JUGA : Eks Wartawan Asal Madiun, Nanik S. Deyang Kini Pimpin Badan Gizi Nasional

Lebih jauh Novan menjelaskan pandangannya tentang calon tunggal yang terjadi di Gresik berjalan secara alami (natural). Sebab pasca putusan MK 60 dan 70 mengubah konstelasi dan landscape peta koalisi. Kini parpol yang ada punya peluang yang besar untuk mengusung pasangan calon sendiri. Sebab Syarat ambang batas pencalonan dimulai pada pilkada 2024 di turunkan secara signifikan itu semua yang bisa menutup peluang adanya kartel dukungan politik seperti yang di takutkan selama ini.

"Tetapi yang terjadi parpol berhitung secara cermat atas dominasi koalisi yang mengusung pasangan calon Ya-Alif. Di mana Gus Yani di usung PDI -P sekaligus kadernya dengan memiliki kekuatan 9 kursi parlement, serta dr Alif yang merupakan ketua DPC Gerindra, di sokong 10 kekuatan kursi DPRD Gresik," ucapnya. Minggu 1 September 2024.

Strategi aliansi koalisi partai-partai yang mengusung Ya-Alif menjadi bukti bahwasanya tidak ada calon lain yang cukup kuat dan populer untuk menantangnya, sekaligus merontokkan asumsi telah terjadi perselingkuhan politik serta kartel dukungan pada calon tunggal.

"Sehingga partai-partai yang tersisa yang sebelumnya mewacanakan akan mengusung kader internalnya berbalik arah dan memutuskan untuk bergabung dalam rumah besar koalisi. Calon tunggal yang terjadi di Gresik menunjukkan konsensus politik yang kuat," cetus Novan.

Dalam diskusi ya g semakin larut, awak media online menyinggung ihwal peluang perolehan suara calon tunggal Ya-Alif melawan kotak kosong?. Dengan gaya khasnya Novan menjelaskan paparannya secara detail dan rijit, sesuai dengan aturan tentang pilkada melawan kotak kosong.

"Bila Paslon mendapatkan suara di atas 50% suara sah, pasangan dinyatakan menang. Apabila terjadi sebaliknya, kotak kosong yang menang maka pemilihan gagal, dan diadakan pemilihan ulang untuk mencari kandidat baru yang memenuhi syarat untuk memimpin," ungkapnya.

Lebih jauh Novan memetakan kekuatan dukungan calon tunggal Ya-Alif. Selain 2 parpol pengusung utama ya g mengantongi 19 kursi DPRD Gresik, Ya-Alif juga di dukung 6 parpol lain, dengan rincian yakni PKB (14 kursi), di susul Golkar (6 kursi), PPP, PAN, Demokrat (masing -masing 3 kursi) dan Nasdem (2 kursi) serta 10 parpol non parlemen.

Lanjut pria yang mempunyai rekam jejak yang selalu mendukung incumbent lebih dari dua dekade terakhir di pilkada Gresik, dengan intonasi tegas ya g di milikinya. Novan mengatakan kemungkinan Paslon tunggal Ya-Alif kalah dari kotak kosong sangat kecil.

Dengan kajian analisisnya yang mendalam Novan meyakini.

"Justru potensi menang Ya-Alif sangat besar, pertama karakteristik pemilih Gresik adalah pemilih tradisional, yang punya ikatan dengan para opinion leadernya. Kedua corak pemilih rasional, yang sadar betul tentang demokrasi perwakilan, apa yang diputuskan partai pilihannya pada Pileg. Maka di pilkada cenderung linear dan berbanding lurus dengan sikap partai yang mewakili aspirasi politiknya. Belum lagi para silent majority, yang tak nampak dipermukaan dengan preferensi memilih condong pada calon tunggal putra daerah, karena ikatan emosional dan primordial, itu kunci kemenangan Ya-Alif," pungkas Novan.

Berikutnya, kata dia komunikasi parpol yang tergabung dalam koalisi Ya-Alif relatif berjalan lancar tanpa hambatan serta tiada sekat di dalamnya. Itu artinya Ya-Alif memiliki satu tarikan nafas serta frekuensi yang sama.

Keyakinan Novan perihal potensi kemenangan calon tunggal Ya-Alif, berdasarkan analisa yang mendalam merujuk pada data statistik yang di rangkum dari berbagai sumber, di mulai dari pilkada 2015 trend kemenangan paslon tunggal sudah tampak tergambar jelas. Setidaknya ada 3 dari 269 daerah dengan calon tunggal dengan kemenangan hampir 100%.

Berikutnya di 2017 terdapat 9 dari 101 daerah dengan calon tunggal. Sementara dalam Pilkada 2018 ada 16 dari 170 daerah dengan calon tunggal, dari jumlah itu hanya satu daerah di kota Makassar yang calon tunggalnya kalah dengan kotak kosong. Adapun dalam gelaran pilkada 2020, ada 25 calon tunggal dari 270 daerah, mereka meraih kemenangan 100%.

"Capaian yang spektakuler dari 2015 sampai 2020, hanya ada satu calon tunggal yang kalah. Sebaliknya 52 calon tunggal yang menang, bukan tidak mungkin sejarah akan berulang, dari 38 kabupaten kota. 5 diantaranya calon tunggal pada pilkada 2024. Insyaallah akan meraih kemenangan khususnya di Gresik," kata Novan disela-sela kesibukan dalam diskusi interaktif yang di gelar di salah satu cafe di wilayah Manyar.

Pewarta Jamal Sintaru

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Malam puncak HUT RI ke79 Acara Malam Gebyar Bersamakita pasti bisa RW 01 kejawan
Next Article
Trend Kemenangan Calon Tinggal Semakin Menguat Pilkada Gresik

Related to this topic:

Be the first to write a comment.